CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 26 Oktober 2010

symphoni kematian

BannerFans.com 
kau alunkan lagu , lagu sedih untukku .
ku lantunkan sebuah puisi , puisi cinta bagimu .
tapi ? indahnya dunia ini , tak akan bisa tertulis dalam sebuah kertas putih.

tiba tiba , kau pergi tinggalkanku.
sedih , hancur dunia ini kurasa
hampa diriku , sendiri bimbang tak berarti
ku lihat langit luas bertuan,
kulihat senyum indahmu menghias

sekarang, sendiri aku menangisimu.
betapa indah hariku bila bersaama mu :(
tapi, semua ini telah berlalu .
aku sendiri disini ! tanpamu .

kurasakan denyut nadiku berseru .
apakah pilihan ini akan menjadi kendalaku?
kuputuskan ambil pisau didapur,
dengan berani ku ambil dan kusayat keurat nadiku

semua pun selesai , hidup ini berakhir .
aku akan pergi menjemput dirinya
dirinya yang kusayang :(

Minggu, 17 Oktober 2010

when I look at you

BannerFans.com 
when I look at you, I know I'm not alone -,- yeaaaah !
yang ada pas aku liat kamu = pancaran sinar petromax mata mu , buat ku silau terpana ooh kau pujaan hatiku -,- ngiiiiks
wes ah bar nyanyi ne -,-

kenapa ? setiap aku liat matamu -,- kok matamu bersinar sinar ya ? aneeeeh
aku melihat dirimu bersama teman mu -,-
yaaa, itu satu gerombolan gengmu . dan aku tau ! SEMUA ORANG !

setiap aku liat kamu , kamu pasti bergaya sok sokan padahal sok aja nggak (?) ngoook 0,0
bersama temanmu menelusuri jalan semarang, bergerombol tetap bersatu -,- berita satu jadi seribu . #namanya aja mati satu tumbuh seribu (?)

setiap aku liat gaya jalanmu , aneeh sih -,- tapi piye ya? yo ngonolah . kadang keren kadang yo nggak ngoooooook -,-
selaaaaaaaaaalu sajaa begitu , lari mu yo aneeeh , tapi rak po deng seng penting tetap cool dan pede #preeeeeet :p
hahahaha

wes , aku liat kamu ! banyak yang nyukain . termasuk si pemalak  -,-
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, kamu benerbener plagiaaaaat -,-

#wes ah kesel meh mangkat piknik eh maksudku meh packing barang piknik ngooook . byebyeeee :*

Senin, 11 Oktober 2010

puisi part 2 :(

BannerFans.com 
RINDUKU UNTUKMU
rinduku di siang malam
kuhanyut di kesunyian
tanpa hadirnya dirimu
di sisi hatiku
kuukir wajahmu dalam mimpiku
kubayang wajahmu dalam khayalku
kulukis wajahmu dalam seniku
kucari wajahmu dalam suratku
walau lautan jadi rinduku
rinduku padamu takkan terbayang
akankah hatiku bisu
tak tatap wajahmu walau sedetik dalam waktuku
rinduku tak semua tersurat dalam suratku
rinduku untukmu berjuta tersirat dalam hatiku

INDAHNYA SUARAMU
lega perasaanku
enak pendengaranku
kudengar suaramu
hilang rasa rinduku
ku ingin dengar suaramu
yang merdu itu
langsung dari bibirmu
terdengar di telingaku
suaramu...
sejernih air, itu suaramu
sebening embun pagi, itu suaramu
suaramu itu...
kuingat di memoriku
kusimpan dalam hatiku
pantaslah ada dalam ucapku
hmm... indahnya suaramu
merdu setiap waktu


KEBAHAGIAANKU
kebahagiaanku..
ada pada sorot mata orang tuaku
kebahagiaanku..
ada pada sorot mata guru-guruku
kebahagiaanku..
ada pada sorot mata saudara-saudaraku
kebahagiaanku..
ada pada sorot mata teman-temanku
kebahagiaanku..
adalah dimana orang lain merasa bahagia


KINI TELAH BERUBAH
dahulu...
yang kulihat saat itu
tatapan mentari penuh kehangatan
dahulu...
yang kudengar saat itu
kicauan burung bersenda gurau
dahulu...
yang kuhirup saat itu
udara sejuk sarat kesegaran
tapi kini semua telah berlalu..
semua telah membatu..
semua telah membisu..
kini...
yang ku lihat saat ini
tatapan mentari penuh kemarahan
kini...
yang ku dengar saat ini
auman besi bermotor yang berisik
kini...
yang ku hirup saat ini
udara kotor sarat akan penyakit

puisi part 1

BannerFans.com 
MAAF KU AKHIRI :(

saat itu kulihat
kau cucurkan air mata
tanda kesedihanmu..
kuyakin itu karenaku
maafkan kumenyakitimu
akhiri cinta kasih antara kita
ku tak ingin kau kecewa
karena ini, karena keputusanku
ku tak mau kau tangisi
apa yang telah terjadi
kau pasti bertanya
mengapa aku akhiri..
nafasku tak kuat lagi
jiwaku tak lama lagi
kan hilang begitu saja
... tentu kau tahu maksudku apa

 IZINKAN KU MELANGKAH

menangis sedih hidupku ini
semua masalah tak kunjung reda
perang batin pun kerap terjadi
kenapa gini? napa begitu??
izinkan kumelangkahkan kaki
ditemani seberkas cahaya hati
mencari sesuatu yang tak pasti
walau jauh mesti kulalui
aku punya mimpi
aku pun punya harapan
mengharap mimpi yang tak pasti
meski lama pasti kunanti
izinkan kulangkahkan kaki
melangkah menggapai mimpi
langkah harus tetap melaju
karena detik takkan pernah dihentikan waktu

Sabtu, 09 Oktober 2010

apa yaa?! apa hidup ini lebih baik dari mimpi . PART 3

BannerFans.com 
PART 7
“Yeah, udah pukul 13.45 lagi. Mana bisa ke warnet,
Shalat Dzuhur belum, temen-temen pada nungguin lagi,
mendingan ke mesjid dulu lahh,” gumam hati Rama. Tak
membuang waktu lama, ia langsung saja menuju mushola
yang tak jauh dari rumah Aisycha.
Sesampai di tempat wudhu, Rama bertemu dengan
seseorang, seumuran sama ayahnya gitu. Yang hendak
berwudhu sama dengan dirinya.
“Pak Dzuhur-nya bareng ya,” sapa Rama.
“Iyaa,” jawab Bapak itu sebelum berwudhu.
Sholatlah mereka berjamaah.
Seusai sholat, berdo’a dan keluar dari mushola, bapak itu
mencoba untuk berkenalan dengan Rama.
“Kalau boleh tau siapa nama Anda siapa yaa?” tanyanya.
“Oh, saya Rama, Om. Kalo Om?” jawab Rama yang
langsung menanya balik.
“Kalau Om biasa dipanggil Iji. Panggil aja Iji.”
“... Om Iji.”
Perbincangan singkat mereka terhenti seiring yang satu
hendak pergi kerja, yang satu lagi pergi karena ditungguin
teman-temannya.
-¤¤¤-
Kini, Rama sampai juga di depan rumahnya. Ia disambut
teman-temannya yang sedari tadi menunggunya.
“Tuh.. dia datang juga akhirnya!!” sahut Ahmad.
PART 8
“Kemana aja Loe, kok lama banget. Katanya cuma
bentar..!!” celoteh Refly.
“Iyah..” tambah Zaky yang lagi dengerin musik di ipod
kesayangannya.
Rama hanya tersenyum menaggapi pertanyaan temantemannya,
seraya menanyakan temannya satu lagi.
“Satu lagi kemana neh? Gak keliatan..”
“Ituu.. Ttuuuhh..!” Refly menunjuk tepat menuju teman
satunya yang tampak asyik memotong rumput, iseng bantuin
Mang Dadang, juga tanya-tanya tentang tanaman dan
perawatannya juga.
“Woy.. gi ngapaeen Loe?!” Rusak taneman gue!” teriak
Rama penuh canda tawa.
“Eeh ngapain aja Loe, gue tunggu dari tadi, ampe gue
bela-belain jadi asisten Mang Dadang segala,” kata Deni
sambil melangkah menuju Rama dan teman lainnya.
“Napa sih lama benerr?” tambah Deni lagi.
“Jadi gini, gue kan ceritanya tu mau upload file ke warnet
sana. Ehh.. di perjalanan gue tak sengaja nubruk anak SD
yang baru pulang sekolah, kakinya berdarah man.. Yaa gue
gak bisa gitu aja ninggalin tu anak, ya kan?”
“Iyaa..” jawab temannya serempak, seuriuzz banget
dengerin Rama.
“Karena itu, gak jadi deh ke warnetnya.. teruss..”
Pembicaraannya terpotong.
“Kenapa gak di rumah aja brur,” kata Ahmad.
“Di rumah bosen, lagian komputer gue kan bermasalah.”
“Napa gak pake laptop, loe kan punya?” ucap Deni.
“Kan loe pinjem buat bikin tugas kuliah. Gimana seey..”
“Ohh Iyaa, di kosan gue, belom gue balikin yaa, hehee..”
ucap Deni lagi.
“Eh, bentar.. flashdisk gue mana yaa?! Yah gak ada.”
Rama melihat-lihat tasnya dan meraba-raba kantung
celananya, siapa tahu aja ada.
“Waduh, jangan-jangan jatuh lagi. Waahh.. parah nih
kalo gini..” tambahnya lagi.
PART 9
“File backup-an nya ada di komputer loe juga kan?” tanya
Refly jadi ikutan bingung.
“Oh.. di laptop gue ada..”
“Syukurlah.. Kalo masih ada mah,” kata Ahmad.
“Tapi lom final kalo yang itu,” ucap Rama kembali.
“Loe perlu upload file-nya sekarang? Biar gue ambil
laptop loe segera,” Deni.
“Gak perlu lah, entar aja. Gue kan cari dulu flashdisk-nya
siapa tahu aja ketinggalan di ...”
“Di mana??” tanya temennya barengan.
“Tau tuh.. huu.”
“Eh gue heran, dari tadi rasanya ada yang beda saja
dengan muka loe, lebih berseri, senyum-senyum terus kaya
kesambet saja,” ucap Zaky yang sedari tadi memperhatikan
Rama sambil terus asyik dengan musik dan mulai lepaskan
sebelah earphone-nya.
“Iya nih kalo punya kabungah teh bagi-bagi kadieu atuh
euy,” sindir Ahmad, gaya sundanya muncul.
“Tadi juga mau gue ceritain, bahwa ada hal yang bikin
gue seneng hari ini, eh.. keburu kepotong oleh pertanyaan
loe-loe pade!!” ujar Rama.
“Gue lanjutin cerita yang tadi nih.. sampai mana tadi,
hehee.. Ohh.. karena kaki si adik itu berdarah.. gue ajakin tu
si adik buat ke rumah sakit, ehh malah gak mau, ia minta
dianterin ke rumahnya saja. Pas di depan rumah, nah ini seru
nih, jangan sampe ketinggalan. Pas di depan rumah, gue tu
ketuk pintu, pencet bel, muncullah sesosok..” sambungnya.
“Hantu..” temennya nyela.
“Ehh.. bukan. Muncullah sesosok wanita yang beuh
beauty banged dah, pesonanya tiada tara.”
“Hahaa.. haha..” Temen-temennya pada tertawa
dengerinnya.
“Loe juga pasti kan terpesona dah. Rasanya gue jatuh cinta lagi nih.”
PART 10
“Huu.. huuu.. jatuh cinta berjuta rasanya..” ledek
temennya.
“Katanya loe gak bakalan jatuh cinta dulu sama yang
namanya mahluk manis, sampe loe kelar kuliah?!” kata Zaky.
“Iya.. mau fokus kuliah dulu kan?” tambah Refly.
“Tapi ini laen, ia bikin gue semangat,” jawab Rama.
“Namanya siapa cuy?” tanya Ahmad.
“Aisycha Citra Ramadhan, namanya.”
“Weiss.. lengkap benerr..” ucap teman-temannya.
“... Dirinya masih ku ingat hingga kini dan kayaknya gue
ada tuh di matanya begitu pun dengan dirinya, rasanya masih
ada nih di mata gue..” ucap Rama bikin geli dengernya.
“Halahh.. gaya loe kayak pujangga kesohor aja, hahaaa..”
ucap Deni.
“Hahaahaaa..” tertawalah semuanya.
“Mmm.. sebenarnya kita-kita diajak ke rumah loe suruh
kumpul mau ngapain? Masa dari tadi dengerin curhat mulu,
sekalian aja tambah gosip biar serru..!!” kata Ahmad.
“Wkkwkkkwk..kk..” semua tertawa geli.
“Kayak tante-tante arisan aja nge-gosip. Hahaa,” ucap
Refly. “Masuk aja dulu yuk!” Rama mengajak semuanya masuk.
“Yuk.. yuu..” Mereka mulai beranjak masuk.
“Sebenarnya gue mau berbagi masalah sama loe
semuanya, soalnya gak asik kalo gak dibagi. Hhee..”
“Yah, masalah dibagi-bagi.. kesenengan kek!”
“Hmeeh..!!”
“Ada masalah apa, uy?” kata Zaky.
“Biasa... Obrak-abrik komputer lagee..” Rama.
“Oh.. Kalo yang gitu mah, let’s go... atuh..!”
“Okey..!”
“Nah ini baru seruu..!”
Mulailah mereka dan juga Rama membedah komputer.
“Bongkar-bongkaar..”
“Software apa hardware-nya nih yang bermasalah?”
tanya Refly.
PART 11
“Waah.. ini mah hardware,” jawab Ahmad.
Rama menghampiri.
“Ehh.. BTW-BTW, curhat yang tadi kayaknya bersambung
nih, belum tuntas.. tas.. tass.. uy,” ucap Zaky.
“Iya tuh kayaknya..” Deni.
“Ya kan cuy? Hhe..” ucap Deni lagi.
“Halaahh.. versi lengkapnya entar gue ceritain,” jawab
Rama sambil tersenyum.
Setengah jam kemudian.
“PSU-nya kena yaa?” tanya Rama.
“Iya nih, ganti ajah,” jawab Ahmad.
“Kalo gitu, gue pergi dulu beli PSU-nya. Ada yang mau
ngikut?” ajak Rama.
“Gue ikut lah, siapa tau aja ntar ketemu mahluk manis.
Hehee..” ucap Refly.
“Hahaa.. Dasssarrr..!!” kata teman lainnya.
“Yuk cabutt..!!”
-¤¤¤-

apa yaa?! apa hidup ini lebih baik dari mimpi . PART 2

BannerFans.com 
Mimpi apa dia ?? Taukah kamu?!
Kalau nggak tau, yuk kita masuki saja awan mimpinya.
Kalo ditulis kira-kira begini ceritanya ...
Let’s read..!!!

-¤¤-¤¤-
PART 3
Tak.. tik.. tik.. tek.. tek tek tek tek tek tekkekeekkkk..
Bunyi tuts keyboard terdengar jelas dihentakkkan seorang
mahasiswa perguruan tinggi jakarta, di siang yang panas.
“Kok masih gak bener-bener sih?!,” katanya sambil
menggaruk-garuk kepala, memandangi PC rakitan yang sering
ia utak-atik sana sini.
Tak ada gelak tawa sang adik lagi di rumah itu, orang
tuanya di luar kota bersama si adik, jadi pantas sajalah bunyi
keyboard terdengar jelas memantul dari dinding ke dinding.
Sunyi sepi bagai tak berpenghuni, orang tua pergi tak
ada di rumah lagi [ngurusin bisnisss katanya]. Tapi untunglah
ada Mang Dadang dan Mpo Aminah yang dimintai tolong oleh
orang tuanya tuk tinggal menemaninya. Sejak sebulan yang
lalu.
“Mang kalo ada teman yang ke sini cari saya, bilangin aja
pergi ke warnet sebentar, tunggu aja suruh masuk,” pesannya
pada Mang Dadang yang sudah seperti keluarga.
“Iyaa.. nanti mang sampaikan. Tidak pakai motor
perginya?” kata Mang Dadang yang sedang membenahi
halaman.
“Nggak ah, deket kok.. Kalo gitu saya pergi dulu.
Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”
jawab si Mang.
Saking tergesa-gesanya, ia sampai lupa kencangkan tali
sepatu. Ia pun duduk berjongkok kembali.
“Kenapa Den Rama?” tanya Mang Dadang.
“Akh gak apa-apa,” jawabnya.
Tali sepatu telah terikat kencang temani langkah kakinya.
Dengan tas di pundaknya ia pun pergi ke warnet yang
lumayan tak sebegitu jauh dari rumahnya.
Ia berjalan dengan sedikit berlari [ingin cepat sampai
kayaknya]. Tanpa disadari, ia pun menubruk anak SD yang
baru pulang sekolah. Kaki anak itu membentur batu dan kerikil
tajam yang berserakan, lukalah kakinya.
“Duh.. maaf dek, ga apa-apa?? Wah berdarah.., ke
rumah sakit ya?” tanyanya dengan hati yang agak kaget
bercampur panik.
“Nggak apa-apa kok, kak. Cuman luka dikit,” ucap si adik.

PART 4

“Siapa nama adik?”
“Aldy,” jawab siswa Sekolah Dasar itu singkat.
“Dik Aldy beneran gak mau ke rumah sakit? Kan berdarah
tuh.”
“Gak ahh. Kak bisa antar ke rumah saja..?” pinta si adik
yang enggan dibawa ke rumah sakit.
“Rumahnya di mana?” tanya Rama.
“Deket kok dari sini,” jawab salah seorang teman si adik.
Aldy terus saja meniup lukanya itu, yang mulai terasa
perih.
Ia urungkan niat buat ke warnet, ada sesuatu yang harus
ia lakukan sekarang, mengantar Aldy ke rumahnya. Tak lama,
ia pun nyampe juga di depan pintu rumah Aldy.
“Oh di sini rumahnya ya? Ini tu deket dari rumah kakak
dong,” ucap Rama sedikit menghiburnya.
Bel dibunyikan, tett.. teet.. teettt..
“Assalamu’alaikum.” Saat itu juga terbukalah pintu itu
dibukakan oleh seorang wanita yang heuuh.. cute abiz dah,
begitu indah dipandang. Sepertinya ia terpesona melihatnya.
“Kakak..” ucap si adik menyapa kakak perempuannya
yang satu-satunya.
“Mmm, ternyata itu kakaknya yaa..” gumam hati Rama.
“Ada apa yaa?!” tanya Aisycha, nama wanita itu.
“Oh.. ini adik ini tadi terjatuh karena saya. Maaf,” jawab
Rama.
“Bukan salah kakak juga kok, adik juga lari-lari nggak
liat-liat,” Aldy membela kak Rama, takut kakaknya marah.
“Kak masuk dulu,” ajak Aldy.
“Iya mari masuk dulu,” tambah Aisycha.
Dipersilakanlah duduk dan disuguhi munuman.
Sambil membersihkan luka kaki adiknya, Aisycha
memperkenalkan diri.
“Mm.. kenalkan, aku Aisycha, kakaknya Aldy.”
“Aku Rama,” jawabnya singkat, bingung mau ngomong
apa.

PART 5

“... Kamu baru di sini yaa?”
“Iyaa, pindahan dari Bandung, baru kemarin lusa tinggal
di sini.”
“Ohh.. pantesan nggak pernah lihat kamu sebelumnya di
komplek ini,” ucap Rama mencoba tuk akrab.
Aisycha membersihkan luka adiknya sambil ngobrol sanasini
dengan Rama.
“Nama lengkapnya apa?” tanya Aisycha.
“Hmm.. Zikr Ramadhan.”
“Enaknya dipanggil apa yaa?”
“Terserah kamu aja mau panggil apa.”
“Kalo dipanggil Zik, gimana?”
Ia, Rama teringat akan orang tua dan adik-adiknya yang
selalu memanggilnya Zik.
“Iyah.. gak apa-pa,” jawab Rama sambil tersenyum.
“Mmm.. ternyata ada satu lagi yang panggil aku dengan
Zik.” Rama kangen juga dengan nama panggilan itu.
“Kalo kamu?!” tanya Rama.
“Aku, Aisycha Citra Ramadhan. Nama belakangnya sama
tuh.”
“Lahirnya bulan Ramadhan juga?” tanya Rama.
“Ah nggak, itu dari nama ayahku, Muhammad Hijri
Ramadhan.”
“Ooo.. kirain..” Rama mengangguk-anggukkan kepalanya
tanda mengerti.
Tiba-tiba saja, “Kak.. Kakak.. Udah kak, udah bersih
lukanya,” kata Aldy.
“Ehh.. udah yaa.” Aisycha yang keasyikan ngobrol baru
menyadarinya.
“Sakit dek?” tanya Rama.
“Nggak dong kan aku jagoan,” jawab si adik yang
langsung pergi bermain game di komputer.
“Dia mah bandell,” celoteh Aisycha.
“Namanya juga anak-anak,” tambah Rama.
“Diminum airnya dong..!”
“Makasih..”

PART 6

“Seger nih siang-siang minum,” ucap Rama yang
memang dari tadi kehausan namun jaim-jaim dikit.
Gelas disimpan kembali di atas meja, Rama mulai lagi
bicara.
“... Tadi, si adik tu mau aku bawa ke rumah sakit, eh gak
mau, malah minta dianterin ke rumah saja.”
“Ke rumah sakit?! Dia mah takut banget kalo diajakin ke
sana.”
“Mungkin takut jarum suntik yaa?”
Aisycha hanya tersenyum mengangguk mengiyakan.
“Ee iya, mau tanya. Sekolahnya di mana?” tanya Aisycha.
“Aku udah kuliah, di Universitas tak terlalu jauh kok dari
sini. Ambil jurusan teknik komputer. Baru semester tiga.”
“Kuliahan yaa.. kalo aku mah di SMA itu tuh yang deket
jalan ke mal. Baru kemarin masuknya juga.”
“... Sekolah itu, aku dulu SMA-nya di sana juga lho.
Sekarang kelas berapa, Cha?”
“Kelas XII, Kak.” Aisycha mulai memanggilnya dengan
tambahan Kak.
Tiba-tiba saja obrolan mereka terganggu oleh dering
ponsel Rama. Ternyata ada SMS masuk.
“Mmm..”
“Yaa..” ucap Aisycha.
“... Aku mesti cabut dulu ni, anak pada nungguin.”
“Anak?!” Aisycha heran. Ia pun bertanya kembali.
“Kakak udah nikah?”
“Ough.. nggak, maksudnya temen-temen,” dengan nada
sedikit malu dikatain udah nikah. Hadduuhhh.
“Mmmh gitu..”
“Ya udah, aku pamit dulu. Cepet baikan aja ya Dik..!”
Sambil mengelus-elus rambut Aldy yang asyik bermain game.
“Yaa, Kak Rama..”
Diantralah Rama sampai ke teras depan.
“Kak sering-sering maen ke sini yaa..!” kata si adik Aldy.
“Yaa Insya Allah. Yuk Assalamu’alaikum,” ucap Rama
yang terus melangkahkan kaki menuju keluar gerbang pagar
rumah Aisycha.
“Wa’alaikumsalam,” jawab kakak adik itu.

apa yaa?! apa hidup ini lebih baik dari mimpi . PART 1

BannerFans.com 
PART 1
Ini malam hari, malam yang sunyi terbalut sepi, awan
pun menghitam, hujan tak kunjung mereda. Pantas sajalah
semua orang tertidur pulas dengan mimpinya sendiri-sendiri
di atas kasur empuk dan pelukan selimut lembut. Tetapi tidak
untuk pemuda ini. Dia hanya terdiam, mata tak terpejam
walau kantuk sesekali menghampiri. Terdiam, melamun,
merenung, memikirkan dan mengharapkan, itulah yang ia
lakukan di malam sunyi.
Dengan tembok sebagai sandarannya, ia membisu
sejenak, lantas menulis di secarik kertas, “Cukupkah bertaubat
hanya dengan berucap istighfar, Astaghfirullah.. Sedang jiwa
raga tak kuasa terus melakukan dosa yang sama..?!”

“...”
Kemudian ucapan keluar.
“... Ku hanya ingin bertobat... Bertobaat...!!”
Ucapan itu memecah kesunyian kamar dimana yang
lainnya tertidur pulas.
“Ya Allah, apa yang mesti kuperbuat, diriku memang
kerap tersesat, banyak lakukan maksiat, juga sering
tinggalkan shalat, namun malangnya diriku tak pandai tuk
bertaubat. Ya Allah, kumemohon padaMu ampuni dosaku.
Engkau Maha Penerima Taubat, ... terimalah taubatku,”
lirihnya.
Air mata meluncur tak terasa menghujani sebuah buku.
Ia usap air mata yang membasahi pipi, juga yang menetesi
buku yang digenggamnya. Buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu menjadi saksi bisu suasana hatinya
saat itu.
Mungkin buku ini akan cocok untukmu, anak cilik,” kata
hatinya sambil terus mengelus-elus cover buku yang berjudul
‘Belajar Mencintai Rasulullah’ yang dipegangnya itu.
PART 2
“Gue, aku, saya, diriku.. haruslah berubah jadi orang
yang lebih baik, ku kan coba gunakan sisa hidup ini. Ku tak
ingin terus dibelenggu nafsu-nafsu tak menentu waktu.
Keponakanku tak boleh sepertiku, meniru kejelekanku, atau
siapa pun itu tak boleh seperti diriku.” Hatinya terus berkata
tanpa jeda dan berharap tanpa henti.
Tiba-tiba saja ia tuliskan sebuah kata ‘mimpi’, sambil
melihat teman-temannya yang sedang tertidur. Ia tuliskan
kembali sederet kalimat “Ketika kita dilahirkan dan kita pun
bermimpi, lalu terbangun dari mimpi itu. Apakah hidup kita kan
lebih baik dari mimpi?!” Kemudian ia goreskan sebuah garis
melengkung yang diakhirinya dengan sebuah titik tepat di
bawah garis itu, hingga membentuk sebuah tanda tanya
besar. Walau ia tak ingin cepat-cepat tidur, namun rasanya
kantuk yang datang menghampiri tak tertahankan lagi. Jam
dinding kamar sudah menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Ia pun
terlelap tidur bersama harapannya dengan buku tetap
digenggam dipelukannya, buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu. Dan mimpi pun hadir temani tidur
lelapnya, sama seperti manusia lainnya.
-¤¤-¤¤-