PART 1
Ini malam hari, malam yang sunyi terbalut sepi, awan
pun menghitam, hujan tak kunjung mereda. Pantas sajalah
semua orang tertidur pulas dengan mimpinya sendiri-sendiri
di atas kasur empuk dan pelukan selimut lembut. Tetapi tidak
untuk pemuda ini. Dia hanya terdiam, mata tak terpejam
walau kantuk sesekali menghampiri. Terdiam, melamun,
merenung, memikirkan dan mengharapkan, itulah yang ia
lakukan di malam sunyi.
Dengan tembok sebagai sandarannya, ia membisu
sejenak, lantas menulis di secarik kertas, “Cukupkah bertaubat
hanya dengan berucap istighfar, Astaghfirullah.. Sedang jiwa
raga tak kuasa terus melakukan dosa yang sama..?!”
“...”
Kemudian ucapan keluar.
“... Ku hanya ingin bertobat... Bertobaat...!!”
Ucapan itu memecah kesunyian kamar dimana yang
lainnya tertidur pulas.
“Ya Allah, apa yang mesti kuperbuat, diriku memang
kerap tersesat, banyak lakukan maksiat, juga sering
tinggalkan shalat, namun malangnya diriku tak pandai tuk
bertaubat. Ya Allah, kumemohon padaMu ampuni dosaku.
Engkau Maha Penerima Taubat, ... terimalah taubatku,”
lirihnya.
Air mata meluncur tak terasa menghujani sebuah buku.
Ia usap air mata yang membasahi pipi, juga yang menetesi
buku yang digenggamnya. Buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu menjadi saksi bisu suasana hatinya
saat itu.
“Mungkin buku ini akan cocok untukmu, anak cilik,” kata
hatinya sambil terus mengelus-elus cover buku yang berjudul
‘Belajar Mencintai Rasulullah’ yang dipegangnya itu.
PART 2
“Gue, aku, saya, diriku.. haruslah berubah jadi orang
yang lebih baik, ku kan coba gunakan sisa hidup ini. Ku tak
ingin terus dibelenggu nafsu-nafsu tak menentu waktu.
Keponakanku tak boleh sepertiku, meniru kejelekanku, atau
siapa pun itu tak boleh seperti diriku.” Hatinya terus berkata
tanpa jeda dan berharap tanpa henti.
Tiba-tiba saja ia tuliskan sebuah kata ‘mimpi’, sambil
melihat teman-temannya yang sedang tertidur. Ia tuliskan
kembali sederet kalimat “Ketika kita dilahirkan dan kita pun
bermimpi, lalu terbangun dari mimpi itu. Apakah hidup kita kan
lebih baik dari mimpi?!” Kemudian ia goreskan sebuah garis
melengkung yang diakhirinya dengan sebuah titik tepat di
bawah garis itu, hingga membentuk sebuah tanda tanya
besar. Walau ia tak ingin cepat-cepat tidur, namun rasanya
kantuk yang datang menghampiri tak tertahankan lagi. Jam
dinding kamar sudah menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Ia pun
terlelap tidur bersama harapannya dengan buku tetap
digenggam dipelukannya, buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu. Dan mimpi pun hadir temani tidur
lelapnya, sama seperti manusia lainnya.
-¤¤-¤¤-

0 komentar:
Posting Komentar