Mimpi apa dia ?? Taukah kamu?!
Kalau nggak tau, yuk kita masuki saja awan mimpinya.
Kalo ditulis kira-kira begini ceritanya ...
Let’s read..!!!
-¤¤-¤¤-
PART 3
Tak.. tik.. tik.. tek.. tek tek tek tek tek tekkekeekkkk..
Bunyi tuts keyboard terdengar jelas dihentakkkan seorang
mahasiswa perguruan tinggi jakarta, di siang yang panas.
“Kok masih gak bener-bener sih?!,” katanya sambil
menggaruk-garuk kepala, memandangi PC rakitan yang sering
ia utak-atik sana sini.
Tak ada gelak tawa sang adik lagi di rumah itu, orang
tuanya di luar kota bersama si adik, jadi pantas sajalah bunyi
keyboard terdengar jelas memantul dari dinding ke dinding.
Sunyi sepi bagai tak berpenghuni, orang tua pergi tak
ada di rumah lagi [ngurusin bisnisss katanya]. Tapi untunglah
ada Mang Dadang dan Mpo Aminah yang dimintai tolong oleh
orang tuanya tuk tinggal menemaninya. Sejak sebulan yang
lalu.
“Mang kalo ada teman yang ke sini cari saya, bilangin aja
pergi ke warnet sebentar, tunggu aja suruh masuk,” pesannya
pada Mang Dadang yang sudah seperti keluarga.
“Iyaa.. nanti mang sampaikan. Tidak pakai motor
perginya?” kata Mang Dadang yang sedang membenahi
halaman.
“Nggak ah, deket kok.. Kalo gitu saya pergi dulu.
Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”
jawab si Mang.
Saking tergesa-gesanya, ia sampai lupa kencangkan tali
sepatu. Ia pun duduk berjongkok kembali.
“Kenapa Den Rama?” tanya Mang Dadang.
“Akh gak apa-apa,” jawabnya.
Tali sepatu telah terikat kencang temani langkah kakinya.
Dengan tas di pundaknya ia pun pergi ke warnet yang
lumayan tak sebegitu jauh dari rumahnya.
Ia berjalan dengan sedikit berlari [ingin cepat sampai
kayaknya]. Tanpa disadari, ia pun menubruk anak SD yang
baru pulang sekolah. Kaki anak itu membentur batu dan kerikil
tajam yang berserakan, lukalah kakinya.
“Duh.. maaf dek, ga apa-apa?? Wah berdarah.., ke
rumah sakit ya?” tanyanya dengan hati yang agak kaget
bercampur panik.
“Nggak apa-apa kok, kak. Cuman luka dikit,” ucap si adik.
PART 4
“Siapa nama adik?”
“Aldy,” jawab siswa Sekolah Dasar itu singkat.
“Dik Aldy beneran gak mau ke rumah sakit? Kan berdarah
tuh.”
“Gak ahh. Kak bisa antar ke rumah saja..?” pinta si adik
yang enggan dibawa ke rumah sakit.
“Rumahnya di mana?” tanya Rama.
“Deket kok dari sini,” jawab salah seorang teman si adik.
Aldy terus saja meniup lukanya itu, yang mulai terasa
perih.
Ia urungkan niat buat ke warnet, ada sesuatu yang harus
ia lakukan sekarang, mengantar Aldy ke rumahnya. Tak lama,
ia pun nyampe juga di depan pintu rumah Aldy.
“Oh di sini rumahnya ya? Ini tu deket dari rumah kakak
dong,” ucap Rama sedikit menghiburnya.
Bel dibunyikan, tett.. teet.. teettt..
“Assalamu’alaikum.” Saat itu juga terbukalah pintu itu
dibukakan oleh seorang wanita yang heuuh.. cute abiz dah,
begitu indah dipandang. Sepertinya ia terpesona melihatnya.
“Kakak..” ucap si adik menyapa kakak perempuannya
yang satu-satunya.
“Mmm, ternyata itu kakaknya yaa..” gumam hati Rama.
“Ada apa yaa?!” tanya Aisycha, nama wanita itu.
“Oh.. ini adik ini tadi terjatuh karena saya. Maaf,” jawab
Rama.
“Bukan salah kakak juga kok, adik juga lari-lari nggak
liat-liat,” Aldy membela kak Rama, takut kakaknya marah.
“Kak masuk dulu,” ajak Aldy.
“Iya mari masuk dulu,” tambah Aisycha.
Dipersilakanlah duduk dan disuguhi munuman.
Sambil membersihkan luka kaki adiknya, Aisycha
memperkenalkan diri.
“Mm.. kenalkan, aku Aisycha, kakaknya Aldy.”
“Aku Rama,” jawabnya singkat, bingung mau ngomong
apa.
PART 5
“... Kamu baru di sini yaa?”
“Iyaa, pindahan dari Bandung, baru kemarin lusa tinggal
di sini.”
“Ohh.. pantesan nggak pernah lihat kamu sebelumnya di
komplek ini,” ucap Rama mencoba tuk akrab.
Aisycha membersihkan luka adiknya sambil ngobrol sanasini
dengan Rama.
“Nama lengkapnya apa?” tanya Aisycha.
“Hmm.. Zikr Ramadhan.”
“Enaknya dipanggil apa yaa?”
“Terserah kamu aja mau panggil apa.”
“Kalo dipanggil Zik, gimana?”
Ia, Rama teringat akan orang tua dan adik-adiknya yang
selalu memanggilnya Zik.
“Iyah.. gak apa-pa,” jawab Rama sambil tersenyum.
“Mmm.. ternyata ada satu lagi yang panggil aku dengan
Zik.” Rama kangen juga dengan nama panggilan itu.
“Kalo kamu?!” tanya Rama.
“Aku, Aisycha Citra Ramadhan. Nama belakangnya sama
tuh.”
“Lahirnya bulan Ramadhan juga?” tanya Rama.
“Ah nggak, itu dari nama ayahku, Muhammad Hijri
Ramadhan.”
“Ooo.. kirain..” Rama mengangguk-anggukkan kepalanya
tanda mengerti.
Tiba-tiba saja, “Kak.. Kakak.. Udah kak, udah bersih
lukanya,” kata Aldy.
“Ehh.. udah yaa.” Aisycha yang keasyikan ngobrol baru
menyadarinya.
“Sakit dek?” tanya Rama.
“Nggak dong kan aku jagoan,” jawab si adik yang
langsung pergi bermain game di komputer.
“Dia mah bandell,” celoteh Aisycha.
“Namanya juga anak-anak,” tambah Rama.
“Diminum airnya dong..!”
“Makasih..”
PART 6
“Seger nih siang-siang minum,” ucap Rama yang
memang dari tadi kehausan namun jaim-jaim dikit.
Gelas disimpan kembali di atas meja, Rama mulai lagi
bicara.
“... Tadi, si adik tu mau aku bawa ke rumah sakit, eh gak
mau, malah minta dianterin ke rumah saja.”
“Ke rumah sakit?! Dia mah takut banget kalo diajakin ke
sana.”
“Mungkin takut jarum suntik yaa?”
Aisycha hanya tersenyum mengangguk mengiyakan.
“Ee iya, mau tanya. Sekolahnya di mana?” tanya Aisycha.
“Aku udah kuliah, di Universitas tak terlalu jauh kok dari
sini. Ambil jurusan teknik komputer. Baru semester tiga.”
“Kuliahan yaa.. kalo aku mah di SMA itu tuh yang deket
jalan ke mal. Baru kemarin masuknya juga.”
“... Sekolah itu, aku dulu SMA-nya di sana juga lho.
Sekarang kelas berapa, Cha?”
“Kelas XII, Kak.” Aisycha mulai memanggilnya dengan
tambahan Kak.
Tiba-tiba saja obrolan mereka terganggu oleh dering
ponsel Rama. Ternyata ada SMS masuk.
“Mmm..”
“Yaa..” ucap Aisycha.
“... Aku mesti cabut dulu ni, anak pada nungguin.”
“Anak?!” Aisycha heran. Ia pun bertanya kembali.
“Kakak udah nikah?”
“Ough.. nggak, maksudnya temen-temen,” dengan nada
sedikit malu dikatain udah nikah. Hadduuhhh.
“Mmmh gitu..”
“Ya udah, aku pamit dulu. Cepet baikan aja ya Dik..!”
Sambil mengelus-elus rambut Aldy yang asyik bermain game.
“Yaa, Kak Rama..”
Diantralah Rama sampai ke teras depan.
“Kak sering-sering maen ke sini yaa..!” kata si adik Aldy.
“Yaa Insya Allah. Yuk Assalamu’alaikum,” ucap Rama
yang terus melangkahkan kaki menuju keluar gerbang pagar
rumah Aisycha.
“Wa’alaikumsalam,” jawab kakak adik itu.

0 komentar:
Posting Komentar